22.4.08

Matinya Manusia

Kuasakah engkau menciptakan Tuhan? Maka diamlah wahai segala Tuhan!

Tapi yang pasti engkau dapat menciptakan Superman.

Begitulah aforisme yang ditulis oleh Fredreich Nietczhe dalam buku tergilanya, Thus Sprach of Zarathustra. Buku ini menceritakan kematian Tuhan, secara metafora tentunya. Ditulis dengan sudut pandang orang pertama dari mata Zarathustra, seorang penyendiri dan pertapa, yang setelah sepuluh tahun mendekam di pegunungan sunyi, akhirnya turun setelah berbincang-bincang dengan matahari.

Dalam buku ini, Nietzche sebenernya berusaha menyindir kaum agamis yang sok suci, dengan menunjukan bahwa Tuhan hanya memperlambat fungsi otak manusia. Dengan bergantung pada Tuhan, maka manusia akan kehilangan jati dirinya, karena ketangguhan, kehebatan, dan potensi mereka tertutup oleh figur Tuhan yang selalu melebihi manusia. Karena itu manusia akan menjadi terbatas, dibatasi oleh norma agama.

Dalam berbagai bukunya, Nietzche tidak pernah menghujat Tuhan. Namun, Nietzche meneriakan Tuhan telah mati, dan gereja adalah nisannya. Maksud kematian Tuhan sebenarnya adalah awal dari kebangkitan manusia sekuler. Manusia bebas yang bertindak menurut akal pikiran dan pengetahuan yang didapat tanpa melibatkan Tuhan.

Manusia yang tadinya adalah inferior dihadapan Tuhan, akan menjadi superior. Nietzche mengagung-agungkan bentuk peradaban yang modern. Banyak tulisan-tulisannya yang berkata bahwa dia membenci bentuk manusia sebagai mahluk biologi. Manusia adalah mahluk elektronik, homo sapien electronicus. Terlihat dengan menyatunya tubuh biologi manusia dengan mesin, kloning manusia, dan terjadinya dunia Cyber di internet.

Belum pasti memang, tapi kebangkitan manusia sebagai penguasa alam semesta akan terjadi, dan akan menggantikan segala macam fungsi Tuhan. Entah dalam hal penciptaan atau penghancuran. Kita nggak akan tahu apa yang akan terjadi nanti...

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Nice@@@

Starless Skylight by The Psycho Catz Headline Animator