22.4.08

Ghost in The Shell

Ghost in the Shell adalah komik Jepang yang diciptakan oleh Masamune Shirow pada tahun 1996. Bisa dibilang konsep ceritanya terinsipirasi dari Film Blade Runner, hanya saja lebih ber-sok filsafat.

Setting waktu Ghost in the Shell adalah sekitar tahun 2020-an dimana konsep mengenai tubuh cybernetics sudah dipraktekan dengan massal. Hampir seluruh manusia di bumi sudah menggantikan paling tidak satu bagian tubuhnya dengan mesin. Tokoh utamanya adalah Motoko Kusanagi, seorang polisi bagian Cybercrime kepolisian Jepang yang seluruh bagian tubuhnya sudah digantikan dengan mesin. Bersama rekannya Batou, Motoko melakukan pengejaran terhadap The Puppet Master, penjahat yang hobi melakukan hacking terhadap insitusi-institusi pemerintahan dan merusak orang-orang yang memiliki bagian tubuh mesin.

Dalam konfrontasinya dengan Puppet Master, Puppet Master mengeluarkan pertanyaan kepada Motoko. “Kenapa”. Tentu saja Motoko menjawab bahwa dia adalah manusia. “Kenapa?” Tanya Puppet Master. “Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu, aku bisa menangis, dan aku bisa tertawa.”

“Tidak lagi... senyummu adalah sebuah emosi artifisial, air matamu adalah sebuah air mineral yang setiap hari kamu isi. Apakah kamu yakin bahwa Motoko itu ‘ada’?”

Manusia, seperti yang dikatakan oleh Nietzche tidak bias berbohong bahwa terkadang sangat membenci tubuh berdaging ini. Ada yang sangat membenci hidungnya karena besar dan berjerawat, ada yang sangat membenci mukanya yang hitam legam, atau tubuhnya yang pendek. Seolah-olah manusia ada yang tercipta tidak sempurna dibandingkan dengan manusia yang lain. Ada sebuah metafora yaitu Homelette, yaitu manusia sebagai telur. Telur ada sebuah benda yang rapuh, diperlukan sebuah perlakuan khusus terhadapnya. Telur itu adalah tubuh manusia, digergoti oleh usia, kapasitas otak yang terbatas, tulang yang rapuh, energi yang mudah habis dan lain-lain.

Dalam Ghost in the Shell, konsepsi tentang pencitraan manusia direkonstruksi ulang. Manusia dengan mudah menggantikan bagian tubuhnya dengan sebuah benda artifisial, mata digantikan dengan sebuah kamera yang bisa zoom hingga ke bulan, kaki digantikan mesin yang bisa meloncat melebihi gedung bertingkat, energi yang tidak bisa habis dengan reaktor nuklir dan sebagainya. Manusia mencapai kesempurnaannya dengan menggantikan segala kelemahannya, sehingga ada sebuah manusia yang tidak berbentuk ‘manusia’. Atau seperti Motoko yang selain tubuh cyberneticnya hanya sebuah Ghost atau hantu di dalam mesin.

Konsep di atas adalah pencitraan masa depan umat manusia. Sebuah generasi yang selalu di awali dengan kata Post- atau yang berarti melampaui. Entah itu postmodern, post cyberpunksm serta post apalah.

Namun semakin manusia memperbaiki dirinya dengan berbagai hal yang mampu dilakukannya, manusia tersebut semakin meninggalkan eksistensi dirinya terhadap dunia. Manusia akan semakin terjebak dalam konsepsi realita yang diciptakannnya sendiri. Misalnya contohnya adalah aku sendiri. Kenyamanan terpuncak bagi diriku adalah saat aku menamatkan sebuah game misalnya. Rasanya seluruh dunia mampu kutaklukan, bukan karena membohongi bahwa game adalah sebuah ilusi yang diciptakan manusia karena sebuah mimpi.

Kembali kepada konsepsi hantu di dalam tubuh. Apakah Motoko bisa disebut sebagai seorang manusia, atau hanya sebuah ‘being’ atau ‘ada’. Jiwanya seolah hanya berupa hantu yang mendiami sebuah tubuh tanpa daging dan dengan seenaknya bisa keluar kapan saja ia mau. Apa seperti itu?. Konsepsi jiwa sampai sekarang pun masih absurd. Jiwa berupa sebuah bentuk proses kimiawi dalam elekstrisitas otak, ataukah berupa spirit theis penuh cahaya yang abstrak.

Ghost in the Shell adalah kisah yang menginsipirasi Wachowski untuk membuat The Matrix. Seperti dalam The Matrix, pernahkah kita berpikir bahwa dunia yang kita sentuh, kita cium, dan kita rasakan hanyalah sebuah penjara yang diciptakan oleh entitas yang lebih besar dan agung daripada kita. Kita tidak akan pernah tahu hingga kita mendobrak realita itu dengan tangan kita sendiri dan berterik MERDEKAA!!!!!!!!.

Bertanyalah kepada dirimu sendiri apakah atribut yang kamu pakai adalah sebuah simbolisme dari jiwa tanpa tubuh... atau malah sebuah tubuh tanpa jiwa?

Tidak ada komentar:

Starless Skylight by The Psycho Catz Headline Animator