‘GiLL, Narutomu dah sampe mana??’ ‘Punya yang Shippuden ngga?’ ato ‘Eh tau ngga!! Kalo Jiraiya dah mokad loh’
Buseeett, bete banget dah kalo ditanyain gitu. Seolah-olah film anime yang bagus dan ngetren cuman Naruto doank. Plisss dehhhh. Gue ampe bersumpah kalo ada yang tanya gituan, gue lempar pake Shuriken... nah gak tau kan shuriken itu apa, gitu ngaku-ngaku seneng Naruto.
Bukan apa-apa sih, bahkan sebelum komiknya secara original diterbitin ama Elexmedia. Gue dah ngikutin ni komik ampe jauh. Jadi plis jangan tanya gue tentang perkembangan naruto karena gue dah expert banget hohohohohohoho.
Sebenernya sangat disayangkan banget klo Naruto diangkat ke layar kaca sebagai Anime, rasanya kurang sreg aja gitu. Ngeliat anime bertema Ninja yang membutuhkan scen-scene cepat, trus menjadi lambat pada saat dikartunkan. Degradasi gitu deh. Mana terjemahannya ancur lagi, jadi tambah sebel liatnya, mendingan nonton Inuyasha yang terjemahan lebih bagus 200 persen.
Gue saranin mendingan kalian tinggalkan aja nonton filmnya, dan mulai baca bukunya *dan beli!!*, karena seperti yang gue bilang diatas, cerita-cerita seperti Naruto membutuhkan pengamatan yang jeli karena pertarungannya yang cepat. Misalnya aja gini, waktu Naruto berusaha menghindar dari jurusnya lawan. Kalo di komik dia bisa berpikir untuk menghindar kemana atau sempat memikirkan strateginya, karena di komik tidak ada timing waktu yang jelas. Tapi pada saat dikonversi ke anime, mungkin waktu Naruto mikir strategi yang tepat keburu dibacok ma musuhnya kali. Nah kaya gini ini yang bikin sebel untuk nonton Naruto, karena absurd banget gitu.
Itu kelemahan Naruto dari segi teknis, lain lagi kalo dilihat dari segi cerita. Sebagai komik bertema ninja, Naruto kehilangan esensinya. Ciri khas Ninja adalah membutuhkan hubungan yang namanya Master dan Servant alias majikan-pembantu. Sudah jelas ninja adalah pembantu, konsepnya adalah assasins atau pembunuh gelap yang berdarah dingin, yang siap melaksanakan segala macam tugas yang disuruh oleh masternya, walaupun disuruh nyemplung sumur. Konsep inilah yang gak ditemukan di komik Naruto, walaupun ada suatu ceritanya yang menceritakan misi-misinya gengnya Naruto, tapi tetap aja esensi ninja gak ditemukan.
Konsep ninja yang lain adalah ninja bukanlah seorang superhero, ninja menghalakan segala cara untuk menang. Secara teknis konsep ini ditemukan dengan taktik-taktik tempur yang cukup bagus di Naruto, tapi esensinya tidak ditemukan. Mana ada Ninja yang merebut kembali Ninja yang telah diculik *misal sasuke*, atau ninja yang membalas dendam kepada ninja yang lain. Yang paling parah lagi ninja yang duelnya seolah-olah berlagak ksatria kaya Naruto. Buseeeetttt. Ke laut aja deh ninja kayak gini.
Kalo pengen nemuin serial dengan esensi ninja yang cukup baik mendingan nonton Basilisk atau pengen tau lebih dalam tentang ninja baca aja komik Ninja Rantaro. Nah komik yang terakhir walaupun lebih banyak lawakannya, tapi esensi tentang teknik-teknik serta peralatan ninja ada di komik ini. Komplit.
Ngga heran sih kalo Naruto bisa digemari banget di Indonesia, karena di Jepang sendiri Award Anime GrandPrix 2005, Naruto dapet tempat ketiga dikalahkan oleh Gensoumadden Saiyuuki dan Fullmetal Alchemist *Source:Animonster*.
16.4.08
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar